Sebiru langit, secerah mentari. Begitulah ku rasa indah hari ini. Ku lihat sosok gadis kecil di perempatan jalan. Langkah demi langkah ia ayunkan. Dan…… ia berhenti tepat di depan rumah minimalis ini, di sini, di rumah kami. Gadis kecil itu adik bungsu kami.
“Assalamu ‘alaykum”, ucapnya dengan lantang sembari membuka pintu rumah yang nampaknya tidak terkunci. Ia pun mulai memasuki rumah setelah terdengar jawaban salamnya. Beginilah, setiap hari aku melihat sosok berwajah ceria itu, mengenakan gaun panjang, memakai kerudung, dan membawa tas kecil. Sebut saja namanya Sirly. Sekitar jam segini ia baru pulang dari mengaji di TPA Rasyidiyah. Dan… seperti biasa, ia selalu melapor dengan para penghuni rumah akan nilai yang diperolehnya. ‘lancar’, kata itulah yang tertulis di kartu putihnya. “Alhamdulillah”, serentak kata itu terlontar dari mulut kami. Memang, si bungsu anak yang cerdas dan mandiri. Sejak kecil ia suka belajar sendiri, tontonannya TV-e dan alif TV. Sejak menginjak bangku sekolah TK, ia semakin mandiri. Setiap hari melangkah sendiri menuju sekolah. Katanya sih malu kalau masih diantar. Hmmm, pola tingkahnya seringkali membuat kami tersenyum bangga.
“Kak, ini bagaimana ceritanya?”, tanyanya padaku seraya memperlihatkan buku cerita bergambar ke arahku. “Sebentar ya dik, ini kakak lagi masak buat makan siang kita nanti”, sahutku seraya merayunya untuk sabar menunggu. “Baiklah kak, sirly tunggu sampai jarum jam (panjang) itu ke angka 12”, ucapnya dengan tangan menunjuk jam dinding yang ada di depannya. Spontan mataku menatap jam dinding berbingkai biru berlukiskan kaligrafi itu. Lima belas menit lagi. Ku coba menyimpan ekspresi kagetku dan ku tatap wajahnya sambil menganggukkan kepalaku, ku ukir senyum bibirku untuk sejenak menenangkannya. Ia pun kembali mengalihkan aktivitasnya, duduk di ruang makan sambil membolak-balik buku gambar. Sekarang ia mulai mencorat-coretkan crayonnya, memadukan warna untuk gambar-gambar itu. Sesekali ia bertanya kepadaku warna apa yang tepat ia gunakan. Tentu saja aku menjawabnya dengan nada suara yang sepantasnya didengar telinganya. Ya, meskipun kadang terkesan cerewet, tapi begitulah anak-anak. Ini adalah masa perkembangannya. So, jangan sampai kita melakukan kesalahan dalam proses belajarnya.
Tanpa terasa lima belas menit berlalu. Masakanku sudah jadi. Kini si bungsu menagih janji. Begitulah anak-anak, ingatannya begitu kuat, apalagi soal janji nih. Makanya, jangan asal deh kalau mau janji-janji sama anak kecil, hehehe. Janji yang pasti-pasti aja deh, yang bisa menciptakan kesah baik di pikirannya. Aku berjalan mendekatinya. Ku ceritakan halaman demi halaman dari buku itu sembari menunjukkan gambar-gambarnya. Tidak jarang ia melontarkan pertanyaan satu persatu. Namanya juga anak kecil, suka bertanya. Harus pinter-pinter nih ngerangkai kata menjadi untaian kalimat bermakna baginya. Maklumlah, ia belum pandai membaca, masih terbata-bata.
Hari demi hari berlalu. Semenjak sekolah ia mulai pandai membaca. Semakin hari semakin lancar, dan ia semakin suka membaca, hingga akhirnya ia terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk memberikan sambutan pada acara perpisahan. Ku lihat senyuman mama ketika melihatnya mulai menaiki panggung dan kemudian memegang microphone. Kata demi kata ia baca, hingga terdengar tepuk tangan menutup penampilannya kali ini. Ya, beginilah yang namanya penguatan. Berikan tepuk tangan. Karena penguatan juga tak kalah penting dalam proses perkembangan anak. Dan seringkali anak kecil itu suka dengan pujian, tetapi tetaplah memberikan pujian yang jujur yaaaa, hehehe.
Kini si bungsu mulai menginjak bangku pendidikan yang baru, madrasah ibtidaiyah. Beginilah di desa kami, madrasah masih menjadi tempat sekolah favorit. Ini juga tak lepas dari pandangan bahwa madrasah selalu berprestasi, bahkan pernah menjadi sekolah terbaik se-provinsi, keren kaaannn, hehe. “Mah, sirly nanti mau jadi juara kelas, soalnya kemarin kan di TK sirly di peringkat II jadi sekarang ingin merasakan jadi peringkat I”, ucapnya dengan polos kepada mama.”Iya dong sayang, kalau sirly juara berarti sirly murid yang terbaik di kelas”, ucap mama dengan penuh kelembutan sambil memegang wajah sirly. Aku hanya tersenyum. Di hatiku terangkai do’a untuk kesuksesan si bungsu. “Yaa Rabb, sungguh aku mencintai mereka. Jadikan kami orang-orang yang sukses dunia akhirat. Aamiin”.
Alhamdulillah, hingga kini si bungsu selalu menjadi juara kelas, dan ia mulai memahami hakikat juara yang sebenarnya. Lagi-lagi yang perlu diingat, motivasi keluarga sangat berharga bagi perkembangan anak.
Meski sekarang jarak memisahkan kami, namun aku tidak pernah melupakan si bungsu. Setiap kali ingin pulang kampong, ku sempatkan untuk mencari oleh-oleh untuk si bungsu. Sering ku berikan ia buku cerita pendidikan untuk anak, cerita tentang gadis kecil berkerudung, buku do’a anak, dan jenis buku bacaan anak lainnya. Ia sangat senang membacanya, berulang-ulang, bahkan sampai dipeluknya di kala tidur.
“Kak, nanti kalau pulang ga usah belikan baju lagi yaaa. Sirly sukanya kakak belikan buku saja, atau alat tulis gitu kak, hehehe”, ucapnya sambil tertawa kecil. Wah, sungguh ia memiliki minat baca yang luar biasa, sampai aku sebagai kakaknya saja jadi malu pada diri sendiri, ahahaha. “O ya kak, jangan lupa yaaa nanti cerita-cerita lagi, dan jangan lupa pertanyaannya, hehehe”, ucapnya sambil tertawa kecil lagi. Memang sudah khasnya tuh tertawa kecil, hehehe. Maklumlah, kalau aku pulang, ia selalu saja memperlihatkan buku-buku barunya dan memintaku untuk membacakan cerita (karena ia suka banget niiih dengar intonasi suaraku kalau lagi bercerita, dengan ekspresi wajahnya lagi, ahahaha :D). Tak jarang kami memainkan drama di buku-buku itu. Dan tentunya nih kalau udah kelar maka aku wajib bikin pertanyaan buat si bungsu, semacam kuis gitu deh. Salut deh buat jawaban si bungsu yang selalu tepat. Sesekali ia yang menanyaiku, dan tak jarang juga ia minta bimbinganku untuk mempelajari kamus tiga bahasa (Indonesia-Inggris-Arab). Intinya nih yaa, siapa coba yang ga bangga punya adik secerdas dan serajin si bungsu. Pokokny nih yaa, kita sebagai keluarganya mestilah selalu bersikap mendukung perkembangannya. Karena ia adalah generasi penerus kita.
Jumat, Maret 23, 2012
ini cerita tentang kebersamaan
Posted by Wily Astri Alchemy at 3/23/2012 12:42:00 AM 0 comments
Label: 99_Motivator ku_99, All About C.I.N.T.A, cerpen ku, Curhat ku . . ., Goresan, k.i.m.i.a C.I.N.T.A, my feeling, my mind, my opinion, sweet LoVe
Minggu, Agustus 01, 2010
Sweet Love . . .
Cinta-Mu akan tetap tinggal bersamaku, hingga akhir hayatku, dan setelah kematian . . . Hati, cinta & rinduku adalah milik-Mu.. KAU takkan pernah terganti, karena mereka tak mampu menandingi-Mu . . .
Posted by Wily Astri Alchemy at 8/01/2010 07:54:00 AM 0 comments
Label: Goresan, sweet LoVe
Sabtu, Juli 03, 2010
Inilah Perjalanan . . .
...Seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)... (Q.S. Al-Fath : 29)
Aktivis Dakwah Kampus....., itulah nama yang kerap kami dengar. Lalu siapakah mereka?
Ya Rabb... Jika amanah ini Engkau sandarkan kepada kami, maka izinkanlah agar kami dapat menumbuhkan dakwah ini, di sini... di kampus tercinta.
Pagi ini ku pilih lagi berangkat ke kampus dengan berjalan kaki... Ku tarik nafas panjang.... Subhanallah....
Ya Rabb...aku punya mimpi...
Aku ingin dakwah ini tumbuh subur untuk pemuda-pemuda kampus pilar kebangkitan umat. Aku ingin kampus ini hidup, dengan orang-orang yang bersih, generasi-generasi pemimpin umat yang berakhlak.
Ya Rabb....jika tongkat dari Peradaban Dunia ini adalah Pemuda...maka di mana tanggung jawab kami untuk menyelamatkan mereka. Tidur atau bermalas-malasankah?, padahal di luar sana begitu banyak pemikiran-pemikiran yang siap menghantam pemuda, yang siap mengobrak-abrik cita-cita kita;Islam.
Saudaraku,
ketika amanah ini diletakkan di bahumu, tentu Allah Maha Tahu kita mampu melaksanakannya. Teruslah berjuang dan bergerak tanpa putus asa, karena dakwah ini membutuhkan orang-orang yang bernafas panjang.
Perjalanan kita masih jauh, eratkan pegangan tanganmu...,mundurlah sejenak saat kau merasa niatmu tak lagi lurus, kemudian kembali maju dengan energi baru.
Dan teruslah bercita-cita.
"Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok." (Hasan Al-Banna)
Perjalanan dakwah kampus masih panjang. Yang diperlukan adalah kesabaran dan ketelatenan. Maju sedikit demi sedikit masih lebih baik daripada sekaligus lalu terkapar. Inilah jaman di mana perubahan itu berjalan dengan sedemikian cepatnya. Kealpaan kita mengantisipasinya hanya akan menjadikan kita terlibas, tanpa ampun. Dakwah seyogyanya harus direncanakan sesuai dengan semangat jamannya. Dan harus ada pelopor di tiap jaman itu. Mereka memperjuangkan dengan segenap daya upaya, penuh pengorbanan, dan berani mengambil resiko. Sebagaimana telah dilakukan oleh ummat-ummat terdahulu. Ini adalah sunnatullah perjuangan. Tanpa pengorbanan mustahil tujuan-tujuan yang kita inginkan bisa tercapai. (Mustafa Kamal)
Ya Rabb, bimbinglah kami..................
Posted by Wily Astri Alchemy at 7/03/2010 06:32:00 AM 0 comments
Label: Goresan
Jumat, Juli 02, 2010
LuV U Mom . . .
Di saat ibumu terlelap . . .
coba kau pandangi beliau dalam-dalam ...
& bayangkan mata beliau takkan terbuka 'tuk selamanya ,,,
tangan beliau tak maMpu lagi 'tuk menghapus airmatamu ,,,
& tak ada lagi nasihat beliau yang selama ini sering kau abaikan . . .
Bayangkan apabila ibumu sudah tiada & apakah kau sudah maMpu m'bahagiakan beliau???
Yang kesekian kalinya beliau selalu membahagiakanmu, memenuhi kehendakmu . . .
Apakah kau pernah berpikir,,, betapa besar pengorbanan Ibumu¿¿¿
"kasih ibu__tak berujung waktu.. Senantiasa tulus ikhlas__tanpa harap balas . . . Luv U, Mom "(wilyastri99_Einsteinium)
Posted by Wily Astri Alchemy at 7/02/2010 07:51:00 AM 0 comments
Senin, Juni 07, 2010
AKU RINDU ZAMAN ITU...
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan dan hujatan.
Aku rindu zaman ketika tsiqoh adalah kekuatan, bukan kecurigaan dan keraguan.
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan, bukan su'uzhon atau menjatuhkan.
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk dakwah ini.
Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan.
Aku rindu zaman ketika hadir liqo' adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian.
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo' selalu membawa uang infaq, alat tulis, buku catatan, dan Qur'an terjemah di tambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tidak bisa hadir liqo'.
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya.
Aku rindu zaman ketika ikhwah berangkat liqo' dengan oNgkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, mutarobbi patungan mengumpulkan dana apa adanya.
Aku rindu zaman itu... Aku rindu suasana itu... Aku rindu nuansa itu... Aku rindu...rinduuu sekali
Ya Allah betapa kami belum seberapanya dibandingkan pendahulu-pendahulu kami.
Ya Allah ampuni kelalaian kami selama ini.
N/B : semoga bisa jadi bahan renungan untuk kita semua . .
Dan semoga penulis goresan ini mendapat ganjaran pahala di sisi-Nya
Posted by Wily Astri Alchemy at 6/07/2010 12:16:00 AM 0 comments
Label: Goresan
