BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

wily_astri

Tampilkan postingan dengan label KEROHANIAN . . .. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEROHANIAN . . .. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 03, 2012

Bismillahirrahmanirrahiim.


(♥)(♥)(♥)(♥)(♥)(♥)(♥)(♥)

♥Mencintai Dengan Indah♥

♥☆˚◦☀°•˚◦♥◦˚•°☀◦˚☆ ♥


Ketika cinta hadir bukan hanya untuk Allah Yang Maha Mengetahui, saat secercah rasa tidak hanya untuk Yang Maha Pencipta, izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba.... Mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya?


Sahabat saudara/ri ku fillah...


Rasa cinta itu ibarat pelangi, begitu banyak warna disana...
Cinta terkadang membuat kita bahagia...
Namun tak jarang membuat kita menderita...
Cinta adakalanya manis bagai madu...
Namun juga mampu memberi rasa pahit bagai empedu...
Cinta adalah perangkap rasa...
Sekali kita salah berlaku, maka akan terkungkung dalam waktu yang lama, dalam lingkaran derita...
Duhai, bagaimanakah kiranya diri bisa keluar dari belenggu itu?
Cintailah dia dengan indah, sikapi dengan anggun dan bijaksana.
Cintailah dia dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan.




♥♥ Cintai dalam diam ♥♥

Bukan karena membenci hadirnya, tapi menjaga kesuciannya, bukan karena menghindari dunia, tapi meraih surganya, bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyesatkan.


♥♥ Cintai dari kejauhan ♥♥

Karena kehadiran kita tiada mampu menjauhkan diri dari cobaan, kehadiran kita hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan, kehadiran kita mungkin saja akan membawa kesedihan bagi hati yang terjaga.



♥♥Cukup cintai ia dengan kesederhanaan♥♥

Memupuknya hanya akan menambah penderitaan, menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan, mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.



♥♥ Maka cintailah ia dengan keikhlasan ♥♥

Karena tentu kisah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang diinginkan oleh hati... Tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi?

''...boleh jadi ( pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.'' ( QS. Al Baqarah : 216)


Sahabat saudaraku fillah....

Tiada obat yang paling mujarab bagi dua orang berlainan jenis yang saling mencintai kecuali bersatunya dua hati,dua jiwa dan raga dalam ikatan suci pernikahan.

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas ( pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.( QS. An-Nur : 32).

Tapi.... Jika memang kelemahan masih nyata di pelupuk mata maka bersabarlah, berdo'alah dan berpuasalah....

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ( QS. Al- Israa : 32)




Sahabat saudaraku fillah...

Cinta bukan untuk kita hancurkan dan kita musnahkan, yang kita perlukan adalah mengendalikan dan mengarahkan agar tidak melanggar syariat-Nya. Kita butuh waktu, kesabaran, kepercayaan/keyakinan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Dia akan memberikan pasangan hidup yang terbaik untuk kita pada waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Sebelum semuanya halal marilah kita fokus mendekatkan diri pada-Nya dengan memperbanyak ibadah dan memperkuat rasa cinta kita pada-Nya.
Dan cintailah yang belum halal itu dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan, itu jauh lebih anggun, lebih indah, lebih bijak dan lebih suci.


Semoga Bermanfaat.


Diedit dan disunting dari dua judul artikel Mencintai dalam Diam dan Mencintai dalam Hening.
Sumber : Tazkiah an Nafs.

Selasa, Juni 08, 2010

H1D4YAH

>Hidayah (bahasa Arab), berarti petunjuk, yang memandu kita sampai ke tujuan . . .

>Orang yang mendapat hidayah, dapat dianalogikan layaknya orang yang menemukan sinyal akses untuk berkomunikasi, semakin dekat dengan pemancar maka sinyal akan semakin bagus . . .
Jadi, sejauh mana orang tersebut berkomunikasi dengan ALLAH, sedekat apa dia dengan Sang Pembolak-balik hatinya . . .

>Ciri-Ciri Orang yang mendapat Hidayah, sebagai berikut :
1. Hatinya akan dipenuhi oleh cahaya
Ia akan merasakan kelapangan dan keleluasaan untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt
Q.S. Al- An'am : 175
2. Kecenderungan memikirkan rumah masa depan (akhirat)
mengambil jarak dengan rumah semu (dunia)
selalu bersiap menghadapi kematian (selalu bertaubat)

>Kiat-Kiat untuk Merawat Hidayah
1. Rawat akarnya dengan aqidah yang benar
"Kekuatan pohon terletak pada akarnya"
Merawat akar hidayah dengan selalu mengulang-ulang prinsip aqidah islam, salah satunya dengan selalu mengucap syahadat dan merenungkan maknanya.
Q.S. Al-Baqarah : 284-286
2. Sinari pohon hidayah dengan nur Al-Qur'an dan cahaya dzikir
"pohon perlu sinar matahari yang cukup"
Q.S. An-Nisaa : 174
3. Sirami pohon hidayah dengan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah
"pohon perlu disiram dengan air"
4. Pupuk pohon hidayah dengan dakwah, tarbiyah, kisah perjuangan para nabi dan sahabat, meminta nasehat orang-orang shaleh dan bergaul dengan orang-orang baik
Mentarbiyah diri, mengambil ibroh dari kisah-kisah perjuangan para nabi & sahabat.
5. Pagari pohon hidayah dengan taqwa, hidup bersama orang-orang baik dan do'a
Taqwa =>> salah satu pengaman hidayah
Q.S. At-Taubah : 119
6. Rawat pohon hidayah dengan berislam yang washath/pertengahan
Jangan berlebih-lebihan yang dapat menimbulkan bid'ah
7. Kenali penyakit-penyakit yang bisa merusak pohon hidayah
Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dengan mengetahui apa yang dapat dilakukan jika terjadi penyakit-penyakit seperti marah, dengki, dll.
Q.S. Fushshilat : 30

>Titik Rawan Hilangnya Hidayah
Fitnah ; godaan harta, kedudukan, lawan jenis, dan yang terbesar adalah fitnah Dajjal.
Q.S. Ali 'Imran : 14

Minggu, Maret 28, 2010

SEGERA TAUBAT . . . SEBELUM TERLAMBAT . . .

_ Setiap kesalahan apalagi kejahatan, selalu menyimpan pesona anehnya. Pesona nafsu, kenikmatan, prestise, arogansi, kepuasan materiil, yang kesemuanya mungkin dapat diperoleh dengan cara-cara yang sangat mudah, ringan, dan nyaris tanpa modal. Disinilah sesungguhnya masalah utamanya. . . Bahkan dosa-dosa itu sendiri punya pesonanya yang sangat memukau. Ini lebih dari sekadar pembuktian dari sabda Rasulullah, bahwa neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang mengundang dan memuaskan syahwat. Tapi memang pesona-pesona itu benar-benar seperti candu. Ia memuaskan sisi kecil kemanusiaan manusia, tapi menghancurkan sebagian besar dan bahkan keseluruhan kemanusiaan itu. 'Pesona neraka' itu bila telah menjerat nafsu manusia, tidak mudah bagi manusia untuk keluar, kecuali yang benar-benar mau menjauhinya...


_ Agar tetap hidup, kita memang harus bertahan. Tetapi untuk bertahan itu sendiri perlu perjuangan, bahkan pertarungan. Bertarung dengan ganasnya kehidupan, dengan persaingan, juga dengan kesulitan-kesulitan yang tak bersahabat. Dan, tentu saja, bertarung melawan paradigma keterlanjuran yang keliru dan sering menyesatkan itu...
Maka, marilah mengaca sejenak. Pada jalan hidup yang mana kita menapak. .
Setiap kita punya hari-hari kemarin, hitam atau putihnya, jelek atau baiknya. .
Yang sangat penting ialah, bagaimana hari-hari ini bukan 'keterlanjuran' di jalan keburukan yang kita sengaja, sekecil apapun keburukan itu . . .


SUMBER : Majalah 'Tarbawi' Edisi 66 Th. 5/Jumadil Tsani 1424 H/21 Agt 2003 M

Keterlanjuran Yang Sering Menjadi Kambing Hitam

_ Kekeliruan terbesar dari segala pilihan hidup yang keliru, adalah keengganan keluar dari kekeliruan itu dengan dalih segalanya telah terlanjur, dengan alasan bahwa sudah kepalang basah. Padahal keterlanjuran hanyalah dimensi waktu bagi sebuah tindakan, peristiwa, dan juga pilihan-pilihan perilaku manusia. Ia tidak memberi makna pemaksaan, bahkan tidak juga makna ketidakberdayaan. Keterlanjuran__ dalam konteks orang-orang yang tidak mau keluar dari jalan yang salah__ sesungguhnya hanya pengulangan secara sadar dan terus-menerus atas tindakan-tindakan yang salah tersebut...


_ Keterlanjuran yang dipakai sebagai dalil sebuah perbuatan buruk, dari waktu ke waktu akan digantikan oleh menyatunya keburukan itu dalam kepribadian, sikap, dan bahkan watak. Bila itu terjadi, maka tidak penting lagi apakah seseorang terlanjur atau tidak. Sebab yang ada bahwa perilaku buruk itu sendiri telah menjadi kebutuhan psikologisnya. Ia akan terguncang dan gelisah kalau tidak melakukan keburukan itu.. Ini adalah fase tersulit bagi jiwa seseorang manusia. Seperti dijelaskan Rasulullah, ini adalah fase di mana keburukan dan kejahatan telah menghitamkan hatinya. Setelah satu demi satu keburukan itu membekaskan titik hitam, lalu dengan dalih keterlanjuran_ titik-titik hitam itu semakin banyak, seiring kian banyaknya pula keburukan berikutnya. Tak ada cahaya iman yang bisa menembus penutup hitam itu. Pesona-pesona keburukan itu sendiri menjadi ruang yang sangat menyenangkan bagi syetan. Maka, pertarungan melawan pesona-pesona keburukan dan kejahatan itu membutuhkan kekuatan. Bahkan pada detik-detik awalnya. Begitulah agama kita mengajarkan, agar tak ada celah bagi makna keterlanjuran yang disalahartikan.


SUMBER : Majalah 'Tarbawi'

Keterlanjuran

_ Nasihat Ibnu Abbas
"wahai orang yang berbuat dosa, janganlah sepelekan akibat-akibat perbuatan dosa itu. Sebab ekornya jauh lebih gawat daripada dosa itu sendiri. Kalau engkau tidak merasa malu kepada orang lain padahal engkau telah berbuat dosa, maka sikap tidak punya malu itu sendiri adalah juga dosa".

"kegembiraanmu ketika melakukan dosa, padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat Allah atas dirimu, adalah juga dosa. Kalau engkau sedih karena tidak dapat berbuat dosa maka kesedihanmu itu jauh lebih dosa dari perbuatan itu. Engkau takut kalau-kalau angin bertiup membukakan rahasiamu, tetapi engkau sendiri telah berbuat dosa tanpa takut akan Allah yang melihatmu. Maka sikap seperti itu adalah lebih besar dosanya ketimbang perbuatan dosa itu".

_ Dalam Al-Qur'an Al Kariim, Q.S.Al-A'raaf: 201, bahwa bagi seorang muslim tidak ada pembenaran sedikit pun pada alasan 'keterlanjuran' dalam mengarungi tindak kejahatan atau keburukan secara berlarut-larut. Justru pada kali pertama pesona-pesona keburukan itu menggoda, orang yang bertakwa segera mengingat Allah, lalu dengan itu ia menyadari kesalahannya sejak saat itu juga . . .