BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

wily_astri

Tampilkan postingan dengan label cerpen ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen ku. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 12, 2013

NYAMUK BISA TIDUR? HAAAAH!!!

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Aku, shofi, hesty, dan mama sedang asyik menonton 'ustadz fotocopy', sinetron favorit Ayah.

Sebelumnya kami sempat menyaksikan acara nikah & beantar patalian warga desa sebelah yang tayang di jaringan TV lokal. By The Way, orang Amuntai ini semakin tahun semakin 'naik' pasaran jujurannya. Kadang merasa risih juga sih. Padahal di dalam sebuah hadits telah disebut bahwa 'Sebaik-baik
mahar adalah mahar yang paling
mudah (ringan)'. Mudah, bukan berarti murah ya! Jadi boleh dong jujuran tinggi, selama tidak memberatkan si pengkhitbah dan tak jadi penghalang terjadinya pernikahan yang begitu mulia itu, menyempurnakan setengah agama. Bukan niat gengsi. Bahkan
Rasulullah SAW pun memberikan
mahar 700 ekor unta kepada Khadijah.

Sekarang kan serba mahal. Uang mahar tuk kebutuhan pernikahan & walimahan kok, biar ga ngerepotin ortu gitu. Tapi, yang lebih penting tuk disiapkan bukanlah pesta pernikahan ataupun resepsi. Persiapan lahir bathin tuk menjalani biduk rumah tangga, itu yang jauh lebih penting. Loh, ini kok jadi ngebahas masalah mahar ya? Oke, kembali ke topik.

Pintu rumah diketuk. Terdengar ucapan salam. Itu Ayah. Beliau baru saja dari acara haulan kerabat. Next, beliau masuk kamar tuk ngelanjutin ritual ibadah. Ya, Ayah selalu membuatku iri. Di mataku, Ayah selalu luar biasa dalam menyempurnakan ibadahnya. ''Rabb, ijinkan Ayah & Ibu tuk menyempurnakan rukun islam. Mengunjungi baitullah. Aamiin Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa malik, Yaa Ghaniy, Yaa Rabbal 'aalamiin''

Beberapa saat kemudian, Ayah berkumpul bersama kami. Seperti biasa, kami bergantian memijit Ayah & Ibu. Beginilah Ayah. Meskipun beliau seorang yang tegas & berwibawa, selera humornya tinggi. Seringkali beliau membuat kami tertawa lepas.

Berawal dari lampu di ruang belakang yang masih bersinar terang. ''lampu itu tidak dimatikan ya?'' tanya Ayah. ''itu nanti hesty mau mencuci, jadi biar saja tak dimatikan dulu'', jawab ibu. ''iya, nanti ulun yang matikan, setelah selesai mencuci. Ini sebentar lagi mau nyuci'', sahut hesty.

''heran deh. Hesty ini kok suka banget nyuci malam-malam begini. Ga 'kenyamukan' kah?", tanyaku. ''Aaahh, nyamuknya pasti udah pada ngantuk & pengen tidur. Mana mau mereka menunggu hesty. Hesty kan bukan artis yang diagung-agungkan oleh fans-fansnya'', ujar Ayah dengan style humor tersendiri. Aku tertawa lepas, yang lain pun begitu.

Tiba-tiba aku teringat akan ucapan Ayah beberapa tahun yang lalu, saat aku bercerita tentang kamar baru di kost. Sebelumnya aku di kamar bawah. ''bu, ulun sering ga nutup jendela malam hari. Adem'', ceritaku. ''lain kali ditutup saja. Bahaya itu. Lagipula kamu ga 'kenyamukan' kah wi?'', tanya ibu dengan nada cemas. ''kan nyamuk ga nyampai terbang ke lantai 2. Ketinggian terbangnya terbatas,'' sahut Ayah melawak. ''benar bu, ulun ga 'kenyamukan' di sana. Beda dengan kamar bawah, sedikit saja telat menutup jendela, dijamin tidurpun tak akan kesepian. Nyamuk akan setia menemani bersama nyanyian malam,'' sahutku seraya masih bertanya-tanya dalam hati soal nyamuk itu.

Sebenarnya masih banyak lelucon lain dari Ayah tadi malam. Tentang istri cantik, bahkan hesty pun jadi subjek lelucon. 'mahalabio' istilahnya.
Two tumb up deh buat Ayah. Sosok Ayah yang istimewa. Terima kasih, Ayah. Kami semua mencintaimu :)


Jumat, Maret 23, 2012

ini cerita tentang kebersamaan

Sebiru langit, secerah mentari. Begitulah ku rasa indah hari ini. Ku lihat sosok gadis kecil di perempatan jalan. Langkah demi langkah ia ayunkan. Dan…… ia berhenti tepat di depan rumah minimalis ini, di sini, di rumah kami. Gadis kecil itu adik bungsu kami.
“Assalamu ‘alaykum”, ucapnya dengan lantang sembari membuka pintu rumah yang nampaknya tidak terkunci. Ia pun mulai memasuki rumah setelah terdengar jawaban salamnya. Beginilah, setiap hari aku melihat sosok berwajah ceria itu, mengenakan gaun panjang, memakai kerudung, dan membawa tas kecil. Sebut saja namanya Sirly. Sekitar jam segini ia baru pulang dari mengaji di TPA Rasyidiyah. Dan… seperti biasa, ia selalu melapor dengan para penghuni rumah akan nilai yang diperolehnya. ‘lancar’, kata itulah yang tertulis di kartu putihnya. “Alhamdulillah”, serentak kata itu terlontar dari mulut kami. Memang, si bungsu anak yang cerdas dan mandiri. Sejak kecil ia suka belajar sendiri, tontonannya TV-e dan alif TV. Sejak menginjak bangku sekolah TK, ia semakin mandiri. Setiap hari melangkah sendiri menuju sekolah. Katanya sih malu kalau masih diantar. Hmmm, pola tingkahnya seringkali membuat kami tersenyum bangga.
“Kak, ini bagaimana ceritanya?”, tanyanya padaku seraya memperlihatkan buku cerita bergambar ke arahku. “Sebentar ya dik, ini kakak lagi masak buat makan siang kita nanti”, sahutku seraya merayunya untuk sabar menunggu. “Baiklah kak, sirly tunggu sampai jarum jam (panjang) itu ke angka 12”, ucapnya dengan tangan menunjuk jam dinding yang ada di depannya. Spontan mataku menatap jam dinding berbingkai biru berlukiskan kaligrafi itu. Lima belas menit lagi. Ku coba menyimpan ekspresi kagetku dan ku tatap wajahnya sambil menganggukkan kepalaku, ku ukir senyum bibirku untuk sejenak menenangkannya. Ia pun kembali mengalihkan aktivitasnya, duduk di ruang makan sambil membolak-balik buku gambar. Sekarang ia mulai mencorat-coretkan crayonnya, memadukan warna untuk gambar-gambar itu. Sesekali ia bertanya kepadaku warna apa yang tepat ia gunakan. Tentu saja aku menjawabnya dengan nada suara yang sepantasnya didengar telinganya. Ya, meskipun kadang terkesan cerewet, tapi begitulah anak-anak. Ini adalah masa perkembangannya. So, jangan sampai kita melakukan kesalahan dalam proses belajarnya.
Tanpa terasa lima belas menit berlalu. Masakanku sudah jadi. Kini si bungsu menagih janji. Begitulah anak-anak, ingatannya begitu kuat, apalagi soal janji nih. Makanya, jangan asal deh kalau mau janji-janji sama anak kecil, hehehe. Janji yang pasti-pasti aja deh, yang bisa menciptakan kesah baik di pikirannya. Aku berjalan mendekatinya. Ku ceritakan halaman demi halaman dari buku itu sembari menunjukkan gambar-gambarnya. Tidak jarang ia melontarkan pertanyaan satu persatu. Namanya juga anak kecil, suka bertanya. Harus pinter-pinter nih ngerangkai kata menjadi untaian kalimat bermakna baginya. Maklumlah, ia belum pandai membaca, masih terbata-bata.
Hari demi hari berlalu. Semenjak sekolah ia mulai pandai membaca. Semakin hari semakin lancar, dan ia semakin suka membaca, hingga akhirnya ia terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk memberikan sambutan pada acara perpisahan. Ku lihat senyuman mama ketika melihatnya mulai menaiki panggung dan kemudian memegang microphone. Kata demi kata ia baca, hingga terdengar tepuk tangan menutup penampilannya kali ini. Ya, beginilah yang namanya penguatan. Berikan tepuk tangan. Karena penguatan juga tak kalah penting dalam proses perkembangan anak. Dan seringkali anak kecil itu suka dengan pujian, tetapi tetaplah memberikan pujian yang jujur yaaaa, hehehe.
Kini si bungsu mulai menginjak bangku pendidikan yang baru, madrasah ibtidaiyah. Beginilah di desa kami, madrasah masih menjadi tempat sekolah favorit. Ini juga tak lepas dari pandangan bahwa madrasah selalu berprestasi, bahkan pernah menjadi sekolah terbaik se-provinsi, keren kaaannn, hehe. “Mah, sirly nanti mau jadi juara kelas, soalnya kemarin kan di TK sirly di peringkat II jadi sekarang ingin merasakan jadi peringkat I”, ucapnya dengan polos kepada mama.”Iya dong sayang, kalau sirly juara berarti sirly murid yang terbaik di kelas”, ucap mama dengan penuh kelembutan sambil memegang wajah sirly. Aku hanya tersenyum. Di hatiku terangkai do’a untuk kesuksesan si bungsu. “Yaa Rabb, sungguh aku mencintai mereka. Jadikan kami orang-orang yang sukses dunia akhirat. Aamiin”.
Alhamdulillah, hingga kini si bungsu selalu menjadi juara kelas, dan ia mulai memahami hakikat juara yang sebenarnya. Lagi-lagi yang perlu diingat, motivasi keluarga sangat berharga bagi perkembangan anak.
Meski sekarang jarak memisahkan kami, namun aku tidak pernah melupakan si bungsu. Setiap kali ingin pulang kampong, ku sempatkan untuk mencari oleh-oleh untuk si bungsu. Sering ku berikan ia buku cerita pendidikan untuk anak, cerita tentang gadis kecil berkerudung, buku do’a anak, dan jenis buku bacaan anak lainnya. Ia sangat senang membacanya, berulang-ulang, bahkan sampai dipeluknya di kala tidur.
“Kak, nanti kalau pulang ga usah belikan baju lagi yaaa. Sirly sukanya kakak belikan buku saja, atau alat tulis gitu kak, hehehe”, ucapnya sambil tertawa kecil. Wah, sungguh ia memiliki minat baca yang luar biasa, sampai aku sebagai kakaknya saja jadi malu pada diri sendiri, ahahaha. “O ya kak, jangan lupa yaaa nanti cerita-cerita lagi, dan jangan lupa pertanyaannya, hehehe”, ucapnya sambil tertawa kecil lagi. Memang sudah khasnya tuh tertawa kecil, hehehe. Maklumlah, kalau aku pulang, ia selalu saja memperlihatkan buku-buku barunya dan memintaku untuk membacakan cerita (karena ia suka banget niiih dengar intonasi suaraku kalau lagi bercerita, dengan ekspresi wajahnya lagi, ahahaha :D). Tak jarang kami memainkan drama di buku-buku itu. Dan tentunya nih kalau udah kelar maka aku wajib bikin pertanyaan buat si bungsu, semacam kuis gitu deh. Salut deh buat jawaban si bungsu yang selalu tepat. Sesekali ia yang menanyaiku, dan tak jarang juga ia minta bimbinganku untuk mempelajari kamus tiga bahasa (Indonesia-Inggris-Arab). Intinya nih yaa, siapa coba yang ga bangga punya adik secerdas dan serajin si bungsu. Pokokny nih yaa, kita sebagai keluarganya mestilah selalu bersikap mendukung perkembangannya. Karena ia adalah generasi penerus kita.

Kamis, Januari 27, 2011

Cinta ??? Belumlah Saatnya untuk Nayla

Bismillaahirrahmaanirrahiim . .
Di sore hari ini tiba-tiba muncul inspirasi untuk merangkai kata menjadi sebuah cerita...Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan inspirasi lewat tulisan kalian ^^
*hanyalah cerita fiksi; dari khayalan si penulis bernama wily astri*
di tulis di Banjarmasin, Kamis/06 Januari 2011 at 07.27 pm



"Cinta ??? Belumlah Saatnya untuk Nayla"



Nayla . . . Seperti itulah kebiasaan orang memanggilku. Aku adalah seorang gadis belia berusia 18 tahun. Tanpa terasa sekarang aku sudah melewati satu semester di bangku perkuliahan. Ya, sekarang aku bukan anak kecil lagi. Aku telah beranjak dewasa. Bahkan sekarang aku tinggal sendiri di kota perantauan, berjuang menuntut ilmu, berjuang hidup mandiri, mencari kerja untuk biaya hidup selama di sini . . . Meskipun pada awalnya terasa begitu berat bagiku, namun tekad bulat dan mimpi-mimpi yang telah ku ukir pada lembaran-lembaran kertas putih, serta dukungan dan motivasi dari keluarga membuat aku mampu bertahan melawan segala aral melintang . . . Saat ini, akulah tumpuan harapan kedua orangtuaku, akulah yang kelak diharapkan mampu memberikan kebanggaan dan kebahagiaan kepada mereka___keluargaku___ bunda, ayah, kakak, dan tiga orang adikku . . . Aku menghela nafas panjang. Takkan ku biarkan mimpi-mimpi itu lenyap tanpa jejak. Akan ku jadikan semua itu nyata di depan mata. Akan ku buktikan, bahwa aku bisa mendapat gelar sarjana dan membuat semua orang bangga, meskipun aku bukanlah berasal dari keluarga berada melainkan hanyalah dari keluarga bersahaja dan sangat sederhana . . .



Hari demi hari berlalu. Aku tetap saja menjadi diriku, aku yang dahulu, dengan segala kelebihanku dan balutan kekuranganku. Bahkan sekarang, aku sudah memutuskan untuk tsiqah dengan jilbabku yang telah aku kenakan sejak aku menginjak usia belasan, dan menjadi aktivis dakwah di kampus dengan melibatkan diri di berbagai organisasi kerohanian di internal maupun eksternal kampus...



Sejak kecil aku memang senang dengan kegiatan keagamaan; mendengar ceramah, dialog tentang islam, ilmu fiqh, tauhid, ilmu akhlaq, tata bahasa Al Qur'an dan ilmu tajwid.. Aku lebih suka mencari tahu semua itu sendiri ketimbang harus menunggu diberi tahu, karena bagiku petunjuk itu harus dikejar. Aku bersyukur atas keimanan yang telah tertanam, aku bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, aku bersyukur atas hidayah yang ditunjukkan, hingga kini aku berada dalam keistiqamahan, berjuang menegakkan syari'at islam, membela kebenaran, mengajak kepada kebaikan, dan memberikan kontribusi untuk kemajuan dakwah islam, bergabung bersama jama'ah dalam naungan cinta Allah, semata-mata mengharap keridhaan-Nya . . .



Setelah sekian lama aku berada di sini dengan segala aktivitas keseharianku, tiba-tiba aku merasa ada getaran lain di hatiku. Entah apa, tapi aku merasa hal ini sedikit mengganggu pikiranku dan mengusik ketenangan jiwaku . . Aku tak mengerti apa yang sedang aku alami. Yang aku tahu aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. . .



Terbesit di benakku akan cerita masa lalu. Kenangan-kenangan waktu aku sekolah dahulu. Sering ku dengar kata-kata manis dari mulut lawan jenis, namun aku tak pernah terpikat, karena aku tak mau mengerti apa itu yang mereka sebut cinta.. Cinta yang aku pahami, cinta Khaliq-makhluq dan cinta makhluq-makhluq (cinta orangtua-anak, cinta antarsaudara seiman), serta cinta makhluq-lingkungan.. Cukuplah cinta itu, dan aku belum ingin mengenal cinta yang lain..



Tapi kini, apakah makna di balik getaran-getaran yang aku rasakan saat ini??? Hatiku seolah terpikat dengan sosok dalam bayang semu, yang aku yakin akan keindahan akhlaq menghias dirinya, keteguhan imannya, kedewasaan pemikirannya, tanpa pernah ku bayangkan penampilan fisiknya . . . Inikah yang dahulu mereka sebut cinta??? Oh Tuhan, apakah aku sedang jatuh cinta kepada sosok dalam bayangan??? Tuhan, jika ini cinta, maka biarkan rasa ini berdormansi sementara waktu hingga ia indah pada waktunya. Jangan biarkan rasa ini terus tumbuh. Karena kini belumlah saatnya aku jatuh cinta.. Biarkan ia datang di saat yang tepat dan kepada orang yang tepat; kepada orang yang menjadi suamiku kelak..



Tuhan, kuatkan imanku, dan jangan biarkan cinta terlarang menggerogoti hatiku. Aku hanya ingin cinta yang halal lagi suci, kelak jika waktunya sudah tepat, atas izin-Mu . . .
Izinkan cinta ini ku persembahkan untuk-Mu semata...dan cintaku kepada Rasul-Mu, orangtuaku, keluargaku, saudara-saudaraku seiman serta orang-orang yang Engkau cintai, biarkan semua rasa cinta itu ada untuk dapat meningkatkan keimanan dan kecintaanku pada-Mu, bukan malah menurunkan derajat kemuliaanku di sisi-Mu . . .